Sejauh apa pun kaki melangkah, secepat apapun angin membawaku pergi dan semerdu apapun syair kehidupan melenakanku... aku akan kembali mendekap hangatmu, memeluk erat kasihmu, menjemput senyummu dan bernari bersama binar indah matamu... mama.
"morning blue... jd kangen mama..."
Tuesday, December 09, 2008
Tuesday, December 02, 2008
MySTORY : Daik Lingga...
Hidup berpindah-pindah adalah hal yang biasa buatku. Setelah menamatkan kuliahnya ayahku di tugaskan di Pulau Daik tepatnya Kabupaten Lingga. Kabupaten ini terdiri dari tiga gugusan pulau besar, Senayang di sebelah utara, Lingga di tengah-tengah, dan Singkep di ujung selatan. Perjalanan yang kami tempuh dari Jakarta cukup melelahkan. Setelah menggunakan pesawat selama dua jam menuju Bandara Kijang di Pulau Bintan kami harus menuju Pelabuhan Tanjung Pinang di ibu kota Pulau Bintan ini dan kami masih harus bertahan menahan goncangan ombak Laut China Selatan menggunakan kapal penyeberangan yang biasa disebut feri selama tiga jam menuju Pulau Singkep di Selatan. Selanjutnya masih harus pasrah berganti kapal dan menambah satu jam lagi pelayaran, kembali menuju utara. Dan tibalah kami di sebuah pulau yang sunyi dan sepi. Lalu lalang kendaraan akan terlalu banyak bila harus dihitung dengan jari. Sepeda motor hanyalah di miliki oleh beberapa pejabat pemerintah. Jika malam tiba, pulau ini laksana tak berpeghuni, dari kejauhan terlihat semburat samar-samar cahaya petromak penduduk kampung. Beruntunglah keluargaku masih mendapatkan listrik dari generator yang di sediakan di lingkungan Puskesmas. Kehidupan mereka tergantung pada hasil panen sagu, karet, kelapa, cengkeh, lada, coklat dan kopi. Lingga merupakan satu-satunya pulau penghasil sagu, pada tahun 2002 produksi sagu tak kurang dari 248 ton pada areal 983 hektar.
Dipulau ini aku mengenyam pendidikan dasarku. Setiap hari aku bersemangat mengayuh sepeda roda tigaku menuju taman kanak-kanak ku tercinta. Walaupun harus berkejaran dengan anjing tetangga dan jantung berdegup kencang menyaingi suara gonggongan anjing-anjing itu tetapi tak menyurutkan semangatku untuk tetap mengayuh sepedaku setiap pagi. Taman kanak-kanak ini sangat sederhana, hanya ada satu ayunan dan satu prosotan yang harus kami mainkan bergantian. Atau harus puas hanya dengan memainkan gundukan pasir. Disini juga pertama kali aku memiliki cita-cita... menjadi ibu bidan.
"tengkiyu God you've given me chances to see the other side of your world"
Dipulau ini aku mengenyam pendidikan dasarku. Setiap hari aku bersemangat mengayuh sepeda roda tigaku menuju taman kanak-kanak ku tercinta. Walaupun harus berkejaran dengan anjing tetangga dan jantung berdegup kencang menyaingi suara gonggongan anjing-anjing itu tetapi tak menyurutkan semangatku untuk tetap mengayuh sepedaku setiap pagi. Taman kanak-kanak ini sangat sederhana, hanya ada satu ayunan dan satu prosotan yang harus kami mainkan bergantian. Atau harus puas hanya dengan memainkan gundukan pasir. Disini juga pertama kali aku memiliki cita-cita... menjadi ibu bidan.
"tengkiyu God you've given me chances to see the other side of your world"
Monday, December 01, 2008
MySTORY : "MY HERO"
Faith is taking the first step even when you don't see the whole staircase. ~Martin Luther King Jr.
Aowww... tanganku di cubit setan-setan kecil yang berada di dekatku, aku tak tau yang mana, mereka berbisik-bisik dan tersenyum-senyum malu. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Wajah-wajah polos itu memancarkan keingintahuan yang amat sangat, penuh selidik tapi tetap bersahabat. Siang ini aku mengikuti ayahku bertugas. Dengan sabar beliau mendengarkan keluhan kesah orang-orang di pulau-pulau terpencil itu, bagi mereka seorang dokter adalah orang yang serba bisa, mulai dari menyembuhkan penyakit hingga memberikan solusi terbaik bagi masalah yang terjadi dikampung mereka. Orang-orang ini sangat antusias menemui kami, entah untuk berobat atau sekedar ingin melihat kedatangan kami di rumah kepala desa. Mungkin bila di banding-bandingkan, ayahku setara terkenalnya dengan P. Ramle bintang film terkenal dari negeri jiran Malaysia yang film-filmnya menghiasi televisi hitam-putih kesayanganku. Lebih mudah menangkap sinyal frekuwensi negeri jiran tersebut daripada tayangan televisi Republik Indonesiaku tercinta. Aku pun ikut tersenyum melihat anak-anak kecil berdesakan di dekatku, mereka ingin melihatku lebih dekat, bahkan sedekat kulit dan bajuku.
Hari telah menjelang sore, sudah tiga pulau yang kami kunjungi. Ayahku memutuskan untuk kembali ke puskesmas dan melanjutkan kunjungannya esok hari. Ikan-ikan kecil mengikuti perahu motor yang membawa kami. Perahu ini biasa di sebut pompong dikerenakan bunyi mesin motor yang mendorong perahu kayu ini seperti pemain gendang yang patah hati menggebuk ember pecah, seperti suara merdu penyanyi rock yang kena radang tenggorokan. Perahu ini hanya dapat memuat empat sampai lima orang ditambah seorang sang juru kemudi yang dengan sigap mengendalikan perahu membawa kami membelah sungai-sungai berair jernih dengan pohon-pohon bakau dikiri dan kanannya menuju satu pulau dan berpindah ke pulau yang lainnya. Perahu inilah satu-satunya alat transportasi yang bisa di gunakan didaerah beribu pulau ini.
Ayahku adalah sosok laki-laki biasa, sama biasanya seperti nelayan yang berjuang mencari ikan di laut, atau toke toko kelontong di pasar, atau penjaga kebun durian di halaman belakang puskesmas tempat ayahku bertugas. Mereka adalah orang-orang biasa yang berjuang untuk hidup tanpa mengeluh. Ayahku ditinggal kedua orang tuanya ketika beliau masih kecil, hidup berpindah dari keluarga yang satu dan keluarga yang lain membuatnya tak takut untuk menghadapi cobaan demi cobaan. Ayahku pernah bercerita, dulu beliau sebatang kara terlunta-lunta di Jakarta setelah menamatkan sekolah tinggkat lanjutnya. Hijrah ke Jakarta mengadu nasib di ibukota adalah satu-satunya pilihan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Beliau di terima di sebuah peguruan tinggi negeri ternama di Bandung, Institut Tehknologi Bandung, mendengar namanya saja sudah merinding aku dibuatnya. Tanpa pikir panjang ayahku melarikan diri ke Bandung, menjadi seorang Insinyur, mungkin itulah yang terpikir oleh beliau pada saat itu. Setelah mengikuti tahap-tahap penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi tersebut, ayahku mendapat kabar yang mengejutkan dari temannya, beliau dinyatakan lulus penyeleksian di perguruan tinggi di Jakarta, Universita Indonesia. Dengan suka cita kembalilah ayahku ke Jakarta dengan pilihan terakhirnya untuk menjadi dokter.
"may be i am not a good girl like your wishes... but you always be my hero"
Monday, April 21, 2008
Jadwal Acara: RESEPSI Pernikahan
Hari: Minggu
Tanggal: 22 Juni 2008
Waktu: 11.00-15.00 WIB
Tempat: Hotel Bumi Wiyata Jl. Margonda Raya - Depok
Acara: Resepsi Pernikahan
Susunan Panitia/Penanggung Jawab
1. Ketua: Bpk. Saiful Bahri
2. Seksi Acara:
3. Seksi Konsumsi: Ibu Saiful Bahri
4. Seksi Perlengkapan:
5. Buku Tamu/Souvenir: Eva
6. Dokumentasi:
7. Transportasi:
8. Keamanan:
Susunan Acara
08.00
- Persiapan rias pengantin & ibu utk resepsi
- Cek dekorasi pelaminan
- Persiapan perlengkapan (Sound system / hiburan)
- Cek catering
11.00
Tamu undangan telah hadir
Pengantin memasuki gedung resepsi
diiringi gendang dan tari-tarian
diikuti rombongan keluarga
Pemberian ucapan selamat kpd kedua mempelai
Undangan menyantap hidangan
diselingi dgn foto utk kenangan
14.00
Acara santap hidangan keluarga
15.00
Acara selesai
Tanggal: 22 Juni 2008
Waktu: 11.00-15.00 WIB
Tempat: Hotel Bumi Wiyata Jl. Margonda Raya - Depok
Acara: Resepsi Pernikahan
Susunan Panitia/Penanggung Jawab
1. Ketua: Bpk. Saiful Bahri
2. Seksi Acara:
3. Seksi Konsumsi: Ibu Saiful Bahri
4. Seksi Perlengkapan:
5. Buku Tamu/Souvenir: Eva
6. Dokumentasi:
7. Transportasi:
8. Keamanan:
Susunan Acara
08.00
- Persiapan rias pengantin & ibu utk resepsi
- Cek dekorasi pelaminan
- Persiapan perlengkapan (Sound system / hiburan)
- Cek catering
11.00
Tamu undangan telah hadir
Pengantin memasuki gedung resepsi
diiringi gendang dan tari-tarian
diikuti rombongan keluarga
Pemberian ucapan selamat kpd kedua mempelai
Undangan menyantap hidangan
diselingi dgn foto utk kenangan
14.00
Acara santap hidangan keluarga
15.00
Acara selesai
Labels:
#familytime
Location:
Jalan Irenk 16, Depok, Indonesia
Jadwal Acara: AKAD NIKAH & SESERAHAN
Hari: Jum'at
Tanggal: 20 Juni 2008
Tempat: Perum. IRENK XVI B/5 Jl. Ampel Raya - Depok
Acara: Akad Nikah & Serah-serahan
Susunan Panitia/Penanggung Jawab
1. Ketua:
2. Seksi Acara: Bpk. Yakup
3. Seksi Konsumsi: Kak Ruli
4. Seksi Perlengkapan: Bpk Gusmarizal
5. Buku Tamu/souvenir: Eva
6. Dokumentasi:
7. Transportasi: Bpk. Widodo
8. Keamanan:
Susunan Acara
05.00
- Persiapan rias pengantin dan ibu untuk akad nikah
- Cek dekorasi pelaminan dan km. pengantin
- Persiapan perlengkapan (Sound system/cd lagu/tenda/kursi)
- Cek catering
07.30
Menjemput Penghulu (KUA)
08.00
Menerima rombongan CPP
Serah-serahan & Sambutan
Wakil dr CPW: Bpk. Saiful Bahri
Wakil dr CPP: Bpk.
Pemberian Balasan untuk CPP
09.00
Dilanjutkan dengan Acara Akad Nikah
Pembacaan Al-Quran&Saritilawah
Mohon Pamit kepada kedua orang Tua
Akad Nikah
Kutbah Nikah
10.00
Ramah Tamah
11.30
Persiapan untuk Sholat Jumat
Tanggal: 20 Juni 2008
Tempat: Perum. IRENK XVI B/5 Jl. Ampel Raya - Depok
Acara: Akad Nikah & Serah-serahan
Susunan Panitia/Penanggung Jawab
1. Ketua:
2. Seksi Acara: Bpk. Yakup
3. Seksi Konsumsi: Kak Ruli
4. Seksi Perlengkapan: Bpk Gusmarizal
5. Buku Tamu/souvenir: Eva
6. Dokumentasi:
7. Transportasi: Bpk. Widodo
8. Keamanan:
Susunan Acara
05.00
- Persiapan rias pengantin dan ibu untuk akad nikah
- Cek dekorasi pelaminan dan km. pengantin
- Persiapan perlengkapan (Sound system/cd lagu/tenda/kursi)
- Cek catering
07.30
Menjemput Penghulu (KUA)
08.00
Menerima rombongan CPP
Serah-serahan & Sambutan
Wakil dr CPW: Bpk. Saiful Bahri
Wakil dr CPP: Bpk.
Pemberian Balasan untuk CPP
09.00
Dilanjutkan dengan Acara Akad Nikah
Pembacaan Al-Quran&Saritilawah
Mohon Pamit kepada kedua orang Tua
Akad Nikah
Kutbah Nikah
10.00
Ramah Tamah
11.30
Persiapan untuk Sholat Jumat
Subscribe to:
Posts (Atom)