Separuh Jiwaku Pergi
Memang indah semua
Tapi berakhir luka
Kau main hati
Dengan sadarmu
Kau tinggal aku
Reff:
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
Kau bilang tak pernah bahagia
Selama dengan aku
Itu ucap bibirmu
Kau dustakan semua
Yang kita bina
Kau hancurkan semua
dalem banget...
Monday, September 28, 2009
Thursday, July 02, 2009
Tuesday, December 16, 2008
MySTORY : My First House Trailer (may be there is will be the second...)
Ayahku sempat di tugaskan disebuah kawasan pertambangan di daerah Tanjung Balai Karimun, tepatnya di kawasan pertambangan batu granit. Sirine tanda bahaya adalah lagu merdu yang setiap hari harus kami dengar. Disinilah rumah keduaku, yaitu sebuah rumah mobil, house trailer meminjam istilah Paman Sam. Tak terbayangkan bagaimana aku bisa menikmati kehidupanku pada waktu itu. Sekarang saja dua jam berada di dalam mobil travel menuju Bandung terasa sangat melelahkan bagiku. Tentu saja tak banyak yang bisa aku lakukan disini, berenang dengan menggunakan ban mobil sebagai pelampungku atau sekedar bermain dipantai berpasir putih itu atau memanjati batu-batu granit hitam nan anggun menjulang tinggi atau sesekali berlari-larian dikejar anjing kampung yang berkeliaran adalah hiburanku pada waktu itu. Tapi untuk anak seusil aku hidup di lokasi seperti ini tak meyurutkan semangatku untuk menemukan tantangan-tantangan baru. Pernah aku menangkap ular yang dalam sangkaanku hanyalah seekor cacing. Semua orang berteriak histeris meliat cacing besar itu. Ehm... tak terlalu besar... sekitar 30 cm panjangnya. Aku hanya bisa menyengir garing melihat tangkapanku di lemparkan ke dalam wc dan di siram air panas oleh ayahku. Semua orang panik dengan temuanku. Berharap-harap cemas semoga ular itu hanya sebatang kara. Bahkan pernah juga aku begitu suka citanya menemukan setumpukan buah berwarna hitam sebesar biji kelereng yang mirip dengan buah berry. Aku pun mengumpulkannya dengan bajuku berharap jagan sampai ada yang terlewatkan olehku tapi ternyata yang ku sangka buah berry itu hanyalah setumpukan kotoran kambing. Ibuku berteriak antara marah dan ingin tertawa melihat kebodohanku. Ibuku selalu bilang aku seperti cacing kepanasan saking tak bisa berdiam diri sedetikpun.
"oh may... oh may... terkenang indahnya masa kecil itu..."
Monday, December 15, 2008
Hanya ingin tapi tak untuk memiliki...
Hayalanku seketika melayang jauh. Eforia kenangan manis masa kecil itu kembali menguasai pikiran dan jiwaku. Entah mengapa perasaan tak menentu ini bisa hadir tanpa di undang hanya dengan membayangkan seorang teman masa lalu dari pulau terpencil itu. Apakah tutur katamu yang melenakanku? Ataukah candamu yang selalu menggelitik hatiku? Mungkin ketulusanmu mendengarkan keluhku yang membuatku merasa nyaman? Entahlah...
Beribu sms telah kita kirimkan. Handpone pertama hasil jerih payahku bekerja selama ini menjadi salah satu saksi canda tawa kita. Betapa indah waktu yang kita lewati dengan perasaan membuncah yang tak terlukiskan. Keinginan untuk bertemu begitu kuat, membuatku berani melangkahkan kaki ku kembali. Berani menyapa kenangan-kenangan manis itu. Berani bermain-main dengan hati yang gundah gulana. Berani menantang segala kemungkinan yang singgah di hatiku. Tapi apakah keberanian ini berani menyentuh hatimu? Entahlah...
Sehari sudah aku bertemu denganmu, pertemuan singkat di suatu senja. Panorama indahnya senja terpatri dengan manis di hatiku terbingkai oleh indahnya melodi-melodi manis semanis madu. Aku mengutuk diriku sendiri yang terdiam kaku tak tau apa yang akan ku katakan, aku sibuk menenangkan perasaan ini, sibuk dengan berjuta pertanyaan yang tak satu pun terucap dari bibirku. Satu asa yang kutitipkan, semoga senyum ini bisa mewakili setiap kata yang inginku ucapkan. Entahlah...
Malam berganti pagi tapi cerahnya surya yang menyinari pagi ini tak dapat menandingi sinarmu yang menghangatkan sanubariku. Hari berganti bulan tapi hati ini terdiam beku terpenjara oleh seribu tanya yang tak terucap. Apa yang harus ku lakukan? Entahlah...
Beribu sms telah kita kirimkan. Handpone pertama hasil jerih payahku bekerja selama ini menjadi salah satu saksi canda tawa kita. Betapa indah waktu yang kita lewati dengan perasaan membuncah yang tak terlukiskan. Keinginan untuk bertemu begitu kuat, membuatku berani melangkahkan kaki ku kembali. Berani menyapa kenangan-kenangan manis itu. Berani bermain-main dengan hati yang gundah gulana. Berani menantang segala kemungkinan yang singgah di hatiku. Tapi apakah keberanian ini berani menyentuh hatimu? Entahlah...
Sehari sudah aku bertemu denganmu, pertemuan singkat di suatu senja. Panorama indahnya senja terpatri dengan manis di hatiku terbingkai oleh indahnya melodi-melodi manis semanis madu. Aku mengutuk diriku sendiri yang terdiam kaku tak tau apa yang akan ku katakan, aku sibuk menenangkan perasaan ini, sibuk dengan berjuta pertanyaan yang tak satu pun terucap dari bibirku. Satu asa yang kutitipkan, semoga senyum ini bisa mewakili setiap kata yang inginku ucapkan. Entahlah...
Malam berganti pagi tapi cerahnya surya yang menyinari pagi ini tak dapat menandingi sinarmu yang menghangatkan sanubariku. Hari berganti bulan tapi hati ini terdiam beku terpenjara oleh seribu tanya yang tak terucap. Apa yang harus ku lakukan? Entahlah...
"Teringat masa lalu di tengah dinginnnya suasana kantor@HRZ"
Tuesday, December 09, 2008
“MAMA”
Sejauh apa pun kaki melangkah, secepat apapun angin membawaku pergi dan semerdu apapun syair kehidupan melenakanku... aku akan kembali mendekap hangatmu, memeluk erat kasihmu, menjemput senyummu dan bernari bersama binar indah matamu... mama.
"morning blue... jd kangen mama..."
"morning blue... jd kangen mama..."
Subscribe to:
Posts (Atom)